Selasa, 26 Februari 2013

Setetes EmbunReblogging: Kembali ke Dunia Blog

Voilà! Inilah kata yang pertama kali tebersit ketika ingin menyapa kembali para sahabat embun. Entah telah berapa lama embun tak lagi menulis di blog ilalangpagi ini. Entah berapa lama pula embun tak lagi berbagi tips trik di dunia maya. Kalau dirunut dari posting terakhir maka kali terakhir adalah pada hari Rabu, 12 Mei 2010. Wow!!! Artinya telah hampir 3 tahun ini embun vakum dalam dunia blogging. Akan tetapi, laksana beruang kutub yang lama berhibernasi, kini saatnya embun kembali 'bangun' dan mulai kembali beraktivitas. That's why, pada posting kali ini, embun ingin berbagi alasan dan kesan ketika lama vakum dari Blogosphere.

Lama tidak menjalani aktivitas blogging memanglah hal yang tidak jarang terjadi pada para Blogger di dunia maya. Hal ini terutama karena banyaknya kesibukan lain di luar kegiatan tulis-menulisnya via internet yang harus dilakukan. Untuk Embun, ada beberapa faktor yang dibuat-buat sehingga embun lama tak lagi menulis. Berikut ini berapa peristiwa dan aktivitas penting yang melatarbelakangi hal itu.

Pertama, lamanya embun tak menulis karena tersibukkan diri pada kuliah. Ya, sebagai mahasiswa, tugas kuliah menjadi penting untuk dikerjakan, dan kuis beserta ujian menjadi hal utama untuk ditunaikan. Setidaknya itulah yang terpikirkan waktu itu. Apalagi kalau 'beruntung' bertemu dengan dosen yang agak 'unik', beban kredit kuliah 3 SKS pun serasa menjadi 10 SKS tanpa jeda.

Kedua, embun saat itu aktif dalam mengikuti organisasi intra kampus. Seperti yang banyak dikatakan orang, mahasiswa itu masa-masa seseorang bebas berekspresi dan mencoba hal-hal baru tanpa harus terlalu takut untuk salah. Jadi, ingin juga rasanya saat itu untuk berkiprah melalui organisasi sekalian untuk mengasah sisi kepemimpinan, politik, manajemen, dan hal-hal sok penting lainnya. Akan tetapi, tetap saja ada beberapa hal sakral yang gagal terlaksana layaknya seorang mahasiswa aktivis pada umumnya, salah satunya adalah ritual membakar ban di jalan ketika demo. Lhoh, kenapa? Alasannya bukan karena embun meneken pakta integritas anti bakar ban, tetapi karena belum pernah sekalipun ikut demo ketika mahasiswa. Yah, tapi tak apalah, setidaknya demo di jalan bisa tergantikan dengan demo praktikum di lab kampus bersama dosen dan teman seperjuangan. :)

Ketiga, Tugas Akhir!!! Ya, Tugas Akhir (TA) atau Skripsi merupakan tantangan terakhir dalam menyelesaikan studi sarjana. Oleh karena itu, layaknya Final Boss pada game-game console, TA tidak bisa dihadapi hanya dengan sebilah pisau, tetapi perlu senapan serbu atau Bazooka untuk menaklukkannya. Maksudnya tentu saja bukan menembak sang pembimbing dengan senapan dan membazooka buku TAnya, tetapi harus dikerjakan dengan tangkas layaknya senapan serbu, dan dengan kualitas produk yang hebat laksana tembakan bazooka. Orang bilang banyak hal mistis yang tidak bisa dijelaskan oleh nalar selama mengerjakan TA. Bahkan, konon katanya kadar kemistisannya lebih tinggi dibanding kemistisan film-film horor di tanah air. Contohnya, program TA yang semula lancar ketika diuji coba, tiba-tiba tidak bisa berjalan sama sekali ketika presentasi akhir sidang TA. Olala. Selain mistis, TA ini juga sungguh sangat menguras sumber daya, baik dana, tenaga, pikiran, dan waktu. Karena begitu menantang dan mistisnya TA ini, sampai-sampai banyak 'dukun-dukun' yang menawarkan jalan pintas pembuatan TA/Skripsi instan seperti yang ramai disiarkan oleh media baru-baru ini. Parahnya, banyak juga rekan-rekan mahasiswa yang tergiur untuk menjajal cara ini. Bisa dibayangkan, ketika produk-produk akademis yang dihasilkan oleh mahasiswa merupakan produk 'cepat saji' seperti itu, bagaimana kualitas pendidikan negeri ini kelak.

Keempat, Studi Lanjut. Amat sangat bersyukur rasanya ketika tahun terakhir pendidikan sarjana embun mendapatkan beasiswa Double Degree Fast Track dari Dinas Pendidikan. Ya, rencana ke depan yang semula diproyeksikan dengan mencari kerja selepas lulus sarjana menjadi beralih untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Program beasiswa ini membuat embun harus paralel melakukan studi S1 tahun terakhir dan studi S2 tahun pertama dalam waktu yang bersamaan. Inti dari program ini adalah menyelesaikan jenjang pendidikan Magister/Master (S2) dalam waktu dua tahun. Rinciannya, studi tahun pertama di Indonesia dan tahun kedua di Prancis. Terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi pada waktu itu untuk dapat melanjutkan studi ke Prancis. Dari sisi akademik, peserta beasiswa harus mendapat Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) S2 sekurang-kurangnya 3,50. Hal ini membuat embun harus mengikuti kuliah S1 dan S2, menyelesaikan TA, dan berusaha untuk lulus sarjana serta memperoleh IPK yang cukup dalam waktu yang bersamaan. Memang berat rasanya saat itu untuk menjalankan dua aktivitas sarat kualitas secara paralel, tetapi ternyata bukan tidak mungkin juga untuk dilakukan setelah berhasil dilalui. Mengenai pembahasan khusus untuk program beasiswa ini dan bagaimana cara mendapatkannya akan Embun posting di kesempatan mendatang.

Kelima, Kursus Bahasa Prancis. Ketika memperoleh beasiswa, embun juga harus mempersiapkan bahasa dengan mengikuti kursus bahasa Prancis sebagai modal komunikasi selama tahun kedua pendidikan Master. Kursus yang dilakukan hampir setiap hari selama kurang lebih 3 jam tiap pertemuan ini harus dilakukan di sela-sela menjalani kuliah S1 dan S2 secara bersamaan. Ya, pasalnya, selain dari sisi pendidikan, syarat untuk bisa berangkat ke Prancis juga mencakup kemampuan bahasa. Dalam hal ini, peserta diharuskan memperoleh serifikat DELF B2 untuk dapat dibiayai pemerintah. Jadi, syarat yang diterapkan tidak hanya harus mencapai standar akademik yang baik, tetapi juga standar bahasa yang memadai. Itulah mengapa aktivitas blogging embun tak lagi tersalurkan.

Keenam, Studi ke Luar Negeri. Akhirnya, usai sudah perjalanan pendidikan S1 dan S2 tahun pertama serta pendidikan bahasa Prancis. Embun bersyukur karena syarat-syarat yang ditentukan berhasil terpenuhi. Selain itu, tersemat sudah status embun sebagai sarjana. Ya, meskipun tidak sempat merasakan wisuda, tetapi setidaknya sudah menerima ijazahnya. Setelah semuanya terpenuhi, akhirnya tiba juga saatnya untuk berangkat dan studi di Prancis. Voilà! Di sinilah embun saat ini, berada di negeri napoleon di daratan eropa. Di sini embun tinggal di kota Strasbourg di provinsi Alsace yang terletak di Prancis bagian timur yang berbatasan dengan negara Jerman. Sibuknya mengurus ini itu dan adaptasi cuaca serta iklim pendidikan di Prancis akhirnya membuat embun tak lagi sempat membuka situs blogger. Long story short, embun akhirnya melewati semester pertama selama pendidikan di Prancis. Kini embun berada di semester kedua untuk magang melakukan riset ilmiah di laboratorium. Di saat inilah keinginan embun untuk ngeblog menggelora kembali.

Terakhir, rasa malas dan ragu untuk kembali menulis. Rasa malas ini terjadi karena telah lamanya blog ini ditingalkan. Tiap kali mencoba untuk memulai kembali menulis artikel dan aktif nge-blog, selalu terbayang-bayang sudah berapa lama blog ini tak terurus, sudah berapa akut tingkat ketidak-update-an dari blogosphere, sudah berapa banyak momen-momen penting yang terlewatkan, dan sudah berapa lama embun tak lagi menyapa sahabat-sahabat embun. Hal-hal tersebut seringkali menjadi momok yang menghantui perasaan blogger yang lama meninggalkan dunia persilatan blogging. Contohnya saja, embun merasa kaget ketika masuk situs blogger ternyata tampilan dan fitur-fiturnya sudah sangat berubah sejak tiga tahun yang lalu. Lebih lagi, ketika melihat tampilan blog, ternyata ada beberapa gambar yang tak lagi dapat ditampilkan karena sudah hilangnya file yang bersangkutan dari hosting. Olala, Nampaknya memang harus mulai beradaptasi kembali dengan lingkungan blog yang baru dan membenahi kekurangan-kekurangan yang ada.

Hal-hal tersebut di ataslah yang akhirnya membuat embun tak lagi aktif nge-blog. Walaupun memang, faktor terpenting sebenarnya adalah faktor terakhir, yakni rasa malas. Sebenarnya bisa saja meski di masa-masa sibuk kita mencurahkannya dalam blog, tetapi lagi-lagi kadang kita merasa malas, jenuh, dan ragu untuk menuliskannya. Yang perlu dilakukan adalah mengubah perspektif malas tersebut menjadi semangat dalam berbagi pengalaman. Itulah mengapa embun saat ini mulai kembali untuk berbagi tips, trik, informasi, pengalaman, artikel beasiswa, dan mungkin cerita pribadi yang mungkin bisa bermanfaat dan menginspirasi sahabat-sahabat embun lainnya.

So, Keep Blogging, dan nantikan postingan-postingan menarik dari embun selanjutnya!!! :)

Comments :

4 komentar to “Reblogging: Kembali ke Dunia Blog”

selamat balik lagi ya heheheh

borescope mengatakan...
on 

jangan tinggalin blog gan hehehe, selamat kembali lagi ya

timbangan mengatakan...
on 

banyak kr=etinggalan informasi nih pasti

gear khk mengatakan...
on 

wahhh, alasan-alasan di atas sebagian besar sama kayak alasanku jarang ngeblog. Sukses kawan di benua seberang :)

Arya aya mengatakan...
on 

Poskan Komentar

Tundukkan tangkai padi dengan komentarmu

 
back to top